Pisang Goreng & Abigail Nathania

Terhitung beberapa tahun berlalu sejak posting terakhir di blog ini. Dan banyak sekali yang sudah terjadi :
– Pisang Goreng mengambil”a leap of faith” dan memutuskan pindah dari bank asing (HSBC) ke bank semi-lokal-semi-asing (OCBC NISP). Salah satu keputusan dengan tantangan terberat, tapi sekaligus memorable. Banyak kesempatan untuk belajar dan merasakan dinamika menjadi bankers dengan segala deadline dan business tripnya. One of the best desicion I ever made.
– Pisang Goreng menikah di tanggal 17 Agustus 2013. Setelah melewati proses yang panjang dan rumit akhirnya sah menjadi seorang istri.
– Tidak lama setelah menikah, hasil tes menunjukkan positif hamil. We were so happy & excited. Kehamilan 9 bulan hampir tidak ada keluhan. Bahkan masih road trip ke Jogja & pulang kantor masih naik angkot sampai Kp Melayu
– Tanggal 16 Mei 2014, pukul 06.45 WIB bayi perempuan mungil lahir melalui persalinan normal. Meski kejadiannya sudah 6 bulan lalu, menuliskan ini masih membuat berkaca-kaca. Membayangkan rasa sakit yang tidak terkatakan, haru ketika mendengar tangisan pertamanya. Sungguh jika bukan karena pertolonganNya, tidak akan sanggup. Dan salut untuk seluruh ibu di muka bumi ini.

Pisang Goreng mengalami yang namanya sindrom Baby Blues. Menjadi sangat posesif terhadap si bayi. Siapapun yang menggendongnya lama-lama dianggap musuh yang akan mengambil anaknya.

Termasuk ibu dari suami Pisang Goreng. Malam itu si bayi menangis,dan digendong oleh ibu si suami. Sejak digendong Pisang Goreng tidak melepaskan tatapan sedikit pun. Di kepalanya hanya terngiang “Apa maksudnya menggendong anakku? Apa karena dia tahu bahwa bayi hanya bisa mengenali bau tubuh, jadi supaya bayiku lengket sama dia instead of me? Mentang-mentang aku belum boleh gendong dan gak bisa menyusu jadi dia seenaknya dekap anakku lama-lama?????”

Dan dimulailah sindrom itu, sampai sekarang.

Sekarang si baby girl sudah memasuki bulan ke tujuh, dan sehat selalu :)

Anak yang sangat ceria dan ekspresif. Tidk sedikitpun pernah membayangkan akan dikaruniai anak yang luar biasa seperti Abigail Nathania.

Baby girl, Papa dan Mama sayang selalu sama Abby ☺☺

image

Dikaruniai anak benar-benar mengubah semuanya.

Published in: on Desember 17, 2014 at 6:57 PM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Capuccino dan Teman

Hari ini salah satu hamster milik Capuccino mati. Tak masalah, usianya sudah cukup tua. Lebih tua dari hamster pada umumnya. Capuccino sempat memelihara beberapa hamster. Semuanya tinggal sendiri. Punya apartemen pribadi, lengkap dengan kotak pasir untuk guling-guling dan mesin jahat untuk lari-lari yang bisa digunakan untuk mengkonversi energi hamster menjadi listrik. Ketika hampir semua hamster single fighter milik Capuccino sudah mati, ia baru sadar bahwa hamster-hamster terakhir yang tersisa tidak hidup sendiri. Ada dua hamster cowok, kakak beradik. Yang satu hanya suka makan, tidur, dan cengengnya minta ampun. Yang satu lagi nakal, hiperaktif, dan suka mengganggu saudaranya. Keduanya hidup bersama sampai tua sekali. Mereka baru berpisah saat si saudara yang lebih gendut akhirnya mati karena sakit.

Capuccino sering bertanya-tanya kenapa kedua kakak beradik ini tidak mati-mati meski keduanya jorok dan jelas-jelas obesitas. Capuccino juga kagum dengan semangat si hamster gendut yang tidak kunjung menyerah dengan penyakitnya. Ia berjuang sampai penghabisan. Sampai tubuhnya yang gendut berubah menjadi kurus dan kisut. Sampai bulu halusnya yang lembut menyerah, rontok, dan tak mampu lagi untuk melindunginya dari dinginnya udara malam. Capuccino sampai pada kesimpulan bahwa dua hamster ini tidak menyerah pada sulitnya hidup karena mereka hidup berdua.

Lalu, hari ini Capuccino juga menyadari bahwa si Pisang Molen sedang rajin menulis. Pisang yang satu ini hanya menulis saat stres, jadi tak perlu kita buat analisa mendalam kenapa Pisang Rebus ini mendadak begitu royal dengan kata-kata. Capuccino bukannya tak pernah stres. Hanya saja, setelah mengamati hamster gendut dan hamster nakal, Capuccino sedikit paham kenapa ia jarang tertekuk di bawah tekanan seperti Pisang Kremes.

Capuccino punya banyak teman. Teman ini dapat mengambil banyak bentuk. Teman SMA, teman kuliah, teman hang out, teman di Twitter, keluarga besar, keluarga inti, sampai istri Capuccino sendiri. Capuccino juga sudah masuk dalam fase berikutnya di dalam kehidupan, dimana seseorang tidak lagi bertanya:

 

Apakah saat saya menunggu ajal nanti akan ada banyak orang di samping saya?

 

Apakah saat saya meninggal nanti akan ada yang merindukan saya?

 

Capuccino sudah mendapatkan jawabannya. Dan sudah tahu kenapa orang berkata bahwa sebelum meninggal, semuanya terasa gelap.

Capuccino yakin kalau seseorang sudah tahu bahwa dirinya tidak sendiri, bahwa setiap tarikan nafas merupakan sesuatu yang layak diperjuangkan, pasti orang tersebut akan menganggap bahwa masalah-masalah yang dihadapinya sebenarnya tidak sebesar gunung. Karena itulah, bagi Capuccino, segala sesuatunya saat ini hanyalah kerikil di kaki.

Tentu saja, Capuccino juga punya banyak keinginan seperti Pisang Keju. Capuccino ingin sekolah lagi. Capuccino ingin bisa sampai ke Los Angeles, atau London. Mungkin bersalaman dengan Cillian Murphy dan Michael Fassbender. Kalau lebih beruntung, mungkin bisa bersalaman dengan Abbas Kiarostami atau Werner Herzog. Supaya trendy, mungkin Capuccino harus bersalaman dengan Christopher Nolan dan Joss Whedon juga. For bragging rights.

Tapi, saat ini Capuccino sudah cukup puas dengan apa yang dimilikinya. Ia bisa tidur seenaknya tiap hari. Baru bekerja saat orang-orang di Los Angeles bangun. Boleh menonton film setiap hari. Bisa bertemu dengan teman-teman tanpa takut dengan mesin absen. Bisa menghabiskan banyak waktu luang dengan sang istri. Bisa menemani ibunya sampai saat dimana lampu di panggung dimatikan nantinya. Capuccino mungkin tak punya banyak, tapi ia punya semuanya.

Selama Capuccino punya teman, ia akan dapat bertahan. Sampai tubuhnya nanti kisut. Sampai nyawanya nanti surut.

Published in: on Juni 4, 2012 at 9:32 PM  Comments (3)  

Pisanggoreng & Bank Indonesia

Untuk kedua kalinya, Pisanggoreng mendapat penolakan dari Bank Indonesia, setelah mencapai tahapan terakhir.

Tanpa harus ditorehkan disini tahapannya, memori di kepala Pisanggoreng rasanya tidak akan pernah melupakan kisah hidup yang satu ini. Dan lebih sreg rasanya menceritakan secara verbal dengan emosi meluap-luap tiap kali menceritakan segment yang satu ini.

Anyway, masih berhubungan dengan pertanyaan di tulisan sebelumnya (tentang Bapak Gideon), “How about me?”

Pisanggoreng sudah terlanjur menyusun rencana hidup dengan asumsi bahwa Pisanggoreng akan berpindah kantor ke Thamrin sana.
Tapi ternyata, asumsi itu tidak terwujud

Dan asumsi itu adalah faktor terpenting dari rencana Pisanggoreng.
Buyarnya asumsi itu, membuyarkan juga rencana yang sudah tersusun dengan ciamik.

So what now?

Beberapa hal terpintas di kepala, misal :

Bertahan di kantor yang sekarang, memupuk lumbung rupiah.
Sementara lumbung rupiah terpupuk, sudah mulai menyusun rancangan bisnis untuk dijalankan begitu lumbung sudah meluap.

Atau, mengajukan beasiswa ke Australia, memulai hidup baru di sana.
Well, kalaupun diterima beasiswa di Australia, pada akhir perkuliahan tetap harus kembali ke Indonesia untuk mengabdi kepada negara, sesuai dengan persyaratan dari yang memberikan beasiswa.

Atau, aplikasi kuliah di Norwegia.
Tapi, harus sudah menyiapkan rupiah dalam jumlah cukup besar, yang notabene tidak mungkin sekarang.

Yang paling memungkinkan memang hanya poin 1. Tapi mengingat pekerjaan di kantor, lalu lintas Jakarta, belum lagi pressure hidup di Jakarta yang berdekatan dengan relasi (sodara-sodara) jadi beban tersendiri lagi.

How sucks it is for being 20 something, huh?

Out of those three options, masih belum ada keputusan final akan seperti apa nantinya.

Yang pasti kepindahan bapak itu ke Norwegia menjadi salah satu pemicu, reminder bahwa Pisanggoreng harus melakukan sesuatu!

Menemukan visi misi dan mencapainya.

Not about me of course, mau belajar melibatkan dan mengandalkan Tuhan, mulai dari hal yang kecil sampai yang heboh semacam isu tentangn visi misi ini.

Starting now!

Published in: on Juni 4, 2012 at 8:03 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pisanggoreng & Gideon Haro

Tergolong unik perjumpaan dengan pribadi yang satu ini.
Kali pertama berjumpa, di warnet bersejarah di Bandung, kala Pisanggoreng bekerja part time demi sesuap nasi padang dan bergiga-giga bandwidth *grin*

Ketika itu, si Gideon Haro ini menjadi pelanggan, yang tergolong loyal dan sering berkunjung. Dengan gaya khas ITB-nya (baca : gondrong, kaca mata, backpack lusuh, muka perhitungan) jadi daya tarik sendiri yang membuat Pisanggoreng mencapai tingkat kepo level 11! (dari skala 1-10)

Usut punya usut, dia ternyata beribadah di gereja yang sama, dan aktif pada bagian Multimedia.

Pisanggoreng sendiri sejak awal memang sudah berminat untuk join Multimedia di tempat tersebut *ngeles a la bajaj*

Jadilah perkenalan dan pertemanan setelah berjumpa di komunitas yang sama.

Dengan kondisi yang sama-sama mahasiswa tingkat akhir, maka koneksi mau tidak mau terbina. Meski tidak bisa dibilang sangat intens.

Dari sekian perjumpaaan, satu kali perjumpaan yang cukup berkesan. Dimana pribadi ajaib ini menceritakan kisah hidupnya sepanjang siang sampai sore. Sampai hal terdetail sekalipun.

Takjub, itu reaksi pertama Pisanggoreng.
“Oh ada ya orang kayak gini”, itu reaksi kedua. In good way, of course.

Dari sesi panjang itu, Pisangggoreng menyimpulkan pribadi ini sudah mempunyai visi dan misi hidup bahkan sejak seragamnya masih abu-abu.

Mungkin ketika remaja-remaja lainnya sibuk sembunyi-sembunyi mencari kesempatan mengintip majalah dewasa, atau heboh sendiri menodong orang tua mereka dengan mainan-mainan paling hip.

Ini mahluk sudah memikirkan ekspektasi dan visi misi hidupnya belasan tahun ke depan.

Apa tujuan yang ingin dicapai.
Bagaimana cara mencapainya dengan kapasitas yang dia punya.
Dalam jangka berapa lama ekspektasinya dapat dia capai.
Apa saja yang dia butuhkan untuk mencapainya.
Pengorbanan apa saja yang harus dia lakukan.

Man!

Seberapa sering Anda bertemu dengan orang seperti itu? Name one, I dare you.

Kemudian dari situ, seperti wanita normal lainnya, simpati Pisanggoreng mulai tumbuh.
Tetapi dengan berbekal kesadaran diri yang tinggi, Pisanggoreng membatasi simpati itu.
Menyadari visi misi yang berbeda. Dan tentu saja blink-blink emosi tidak penting hanya akan merusak pertemanan yang ada.

Itu juga yang menjadi salah satu nilai lebih mahluk satu ini, dia sadar betul akan ke-charming-annya.
*Yes, it’s obvious, dude.*

Though, dia tetap bisa membatasi diri dan tidak menebar benih kemana-mana.
Begitu ada sinyal-sinyal bahaya, dia bisa menjaga jarak dan memastikan bahwa plang “I’m not interested” sudah terlihat.
Bukannya memberdayakan ke-charming-annya itu.

Good boy.

Salah satu yang juga membuat makin kagum adalah, si mahluk ini tipe yang (sepengetahuan Pisanggoreng) tergolong setia. Dari cerita yang tersampaikan hingga hari ini, baru satu wanita yang berhasil membuat dia berkomitmen. Meskipun akhirnya justru wanita itu yang memupuskan komitmen mereka. *silly woman*

Lalu apalagi uniknya dia?

Tentang visi misi hidupnya. Dia memutuskan mengambil perkuliahan perminyakan sejak SMA dan di ITB
Kenapa? Simple jawabannya kala itu, “Ingin hidup mapan, tanpa harus menjadi dokter/pengacara, seperti yang diketahui orang pada umumnya”

He made it.

Ketika lulus, dia diterima di perusahaan minyak lokal yang cukup ternama.
Tak bertahan lama, dia memutuskan keluar. Alasannya? Job desc yang diarahkan kepadanya tidak sesuai dengan visi misinya.

Gosh!

Oia, sedari tadi menyebutkan visi misi, belum disebutkan apa itu visi misinya.
Menjadi Reservoir Engineer.

Pisanggoreng sendiri hanya orang awam yang hanya bisa melongo mendengar istilah itu.

Secara garis besar, untuk memperoleh titel itu, tahapan yang dia sudah lalui hingga saat ini :
– Lulus kuliah “berdarah-darah” di ITB
– 4 tahun bekerja freelance, sebagai syarat pengalaman sebelum memasuki level berikutnya
– Memasuki tahun kelima, masih dengan titel freelance, tapi sudah punya beberapa anak buah dan menjalani beberapa project (yang lagi-lagi adalah syarat/requirement untuk mencapai level “Reservoir Engineer”)

Hanya tiga poin memang secara tulisan.
Tapi keseharian yang dilaluinya mungkin tidak semua orang bisa menjalaninya.
Jam kerja yang serabutan sebagai freelance. Kehidupan sosial yang terdegradasi (actually sebelumnya pun kehidupan sosialnya tidak begitu signifikan, dan makin menjadi tidak signifikan)

Setiap kali Pisanggoreng bertanya, “Memangnya gak capek?”, “Memangnya gak bosen?”

Dia beberapa tahun pertama dengan mantap dia bisa menjawab “Gak”
Tapi ada kalanya juga jawabnya sedikit melenceng menjadi “Ini tahapan yang harus dilalui, dan sudah firm untuk menjalani ini”

Which means, he might getting tired, but he’s not giving up.

Dude!
Name one if you know such persistent person. Such persevere person.

Lalu kenapa Pisanggoreng baru menulis tentang dia hari ini?

Bapak ini akan berangkat ke Norwegia pada 1 Agustus 2012.
Setelah perjuangan panjang, impiannya untuk melanjutkan sekolah di Norwegia akhirnya tercapai
FYI, impian yang ini juga sudah dia sebutkan sejak kuliah.

Dan beberapa waktu lalu, Pisanggoreng berkesempatan merayakan kelulusannya ini di kota Paris van Java

Pisanggoreng bukan hanya melihat pribadi yang persistent, pribadi yang kuat.
Tapi, di sisi lain, pribadi yang satu ini jadi reminder bahwa pribadi yang bervisi misi dan menghidupinya adalah kesaksian yang lebih kuat dan riil dibandingkan ungkapan-ungkapan dan kata-kata rohani.

Dia mungkin tidak berulang-ulang menyebut Tuhannya.
Tapi melalui tahapan hidupnya, menjadi kesaksian nyata bagaimana dia mengandalkan Tuhannya melewati tahapan kehidupannya.

Well, setidaknya itu yang Pisanggoreng lihat. Kalaupun memang ternyata dia pribadi yang arogan dan mengandalkan dirinya sendiri hingga berhasil mencapai impiannya, at least dia sudah berhasil menjadi berkat bagi temannya.

So, bapak ini akan berangkat, dan mulai menghidupi impiannya untuk memasuki level berikutnya dalam visi misi hidupnya.

Congrats!

Dan sekarang Pisanggoreng sedang berpikir, how about me?

Published in: on Juni 4, 2012 at 8:02 AM  Comments (2)  

Passport

Pasport – Jawapos 8 Agustus 2011

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “suratijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau. “Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

*The Next Convergence*

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekallimaratus ribu rupiah, anak-anak SD dariPontianakdapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitasIndonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia *

Saya mau keliling dunia! – Pratiwi Ester Novita Manik

Published in: on Agustus 10, 2011 at 3:41 PM  Comments (1)  

Fake

I’m such a fake plastic tree.

Published in: on Agustus 22, 2010 at 6:17 PM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Capuccino dan Secangkir Sepi

Pesan singkat menyapa Capuccino. Sahabatnya berkeluh-kesah. Katanya ia merasa ditinggalkan. Sepi sendiri. Dimanakah teman-temannya berada saat ia merasa galau seperti ini?

Sindrom seperempat baya menyapa. Katanya hal ini sedang banyak menggejala.

Setelah melepas status mahasiswa dengan penuh euforia, anak-anak muda itu menyambut dunia barunya dengan gempita. Dunia baru ini berisik, berputar cepat, dan akan melindas semua yang temponya tertinggal. Mereka mendadak lupa semuanya. Lupa siapa dan dimana dirinya berada, yang ada hanyalah pemahaman bahwa bergerak merupakan sebuah keharusan. Kemana? Ya, ikut orang-orang yang sudah duluan berjalan di depan dong.

Semuanya berlomba mengerjakan pekerjaan yang mereka sebenarnya tidak terlalu suka. Setelah mendapat uang, lalu membelanjakannya, membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkannya. Semuanya dilakukan untuk mendukung gaya hidup yang sebenarnya tidak terlalu dinikmatinya.

Beberapa tahun setelah pengejaran tanpa henti itu dimulai, mereka mulai lelah, berhenti sejenak, lalu bertanya: dimanakah teman-teman saya?

Ia akan melihat bahwa teman-temannya berada di luar sana, jauh sekali, dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia mencoba menyapa, tetapi mereka hanya membalas setengah hati. Ikatan yang terjalin rapat saat sekolah dan kuliah dulu terasa seperti mimpi. Tiba-tiba ia merasa jauh tersesat.

Untungnya, sahabat Capuccino tidak curhat sampai tahapan menggerutu. Bila nekat menembakkan kata-kata pahit dan cela, kepada siapapun Capuccino akan berkata: ingatkah kau pada saat kami berlari memanggil? Dimanakah kalian kemarin? Seminggu yang lalu? Setahun yang lalu? Dimanakah kalian saat kami merasa sendiri?

Capuccino sih jarang merasa kesepian, dan biasanya tidak pecicilan curhat kemana-mana kalau sedang bad mood. Tapi, bukan berarti ia tidak memahami derita teman-temannya di luar sana.

Kita adalah jalinan tangan-tangan yang saling menggenggam dalam gelap. Kita tidak pernah menyadari betapa dekatnya jarak satu sama lain. Kita juga tidak pernah menyadari bahwa kita bukanlah satu-satunya yang merasa sendiri. Capuccino mungkin sudah merasa kesepian minggu lalu. PisangGoreng mungkin sudah kesepian bulan lalu. Kita semua semua mendapat giliran masing-masing. Tetapi, hanya pada saat kita galau itulah, kita akan membuka mata dan menoleh ke sekitar. Hanya untuk menemukan kegelapan yang mengungkung. Tanpa tahu tangan yang kita genggam sedang menangis. Tanpa tahu ada berjuta pasang mata yang saling mencari dalam gelap. Merasa sepi sendiri.

Published in: on Agustus 12, 2010 at 3:05 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Capuccino dan Paul Arden

Capuccino sedang bersih-bersih perpustakaan, eh, gudang buku, dan teringatlah ia pada Paul Arden. Saat pertama membeli bukunya beberapa tahun yang lalu, Capuccino langsung jatuh cinta pada “Whatever You Think, Think The Opposite”. Malam ini, Capuccino patah hati. Buku itu ternyata sudah hilang dari daftar koleksi.

Capuccino sedang menikmati statusnya sebagai pengangguran. Di saat yang sama, PisangKremes sedang menyusuri jalan setapak menuju pengabdian pada negara, alias jadi PNS. Capuccino langsung teringat pada salah satu anekdot yang dibacanya, kemungkinan besar dari bukunya Arden juga.

A dan B memulai hidup dengan pilihan jalan yang berbeda. A melesat cepat di jalur penempatan karyawan yang normal. Di umur sekian-sekian, A sudah menanjak menuju kemapanan, aman, dan dalam grafik yang merangkak stabil. B memulai dengan segala kemalasan dan keleletannya, tertinggal jauh dari A. B hidup terkatung-katung, kadang naik dan kadang turun. Grafik roller-coaster ini membawa B pada beberapa pencapaian puncak. Mungkin salah satunya adalah penemuan sendal anti maling. Cocok dibawa untuk shalat Jum’at ke masjid terdekat. B menjadi terkenal atas penemuan-penemuannya. Tapi, itu tidak lantas membuat grafik hidupnya menjadi stabil. Kadang ia kaya dan terkenal, kadang kere. Sementara itu, di saat yang sama, A sudah mampu membayar lunas cicilan rumah, apartemen, sepuluh mobil, dan punya selusin anak. A juga sudah jadi manajer. Punya kursi empuk dan banyak kacung.

A dan B sama-sama sukses. Successful A is doing reasonably well. Successful B is doing well too, with a spark of fame.

Most people are reasonable; that’s why they only do reasonably well.

PisangKepok merasa ‘terjebak’ dalam lingkaran kehidupan lulus-kerja-kawin-punya anak-tua-mati. Ia merana karena hidupnya akan berakhir seperti si A. Ia merana karena ia tahu, anekdot-anekdot seperti ini diakhiri dengan penutup klise seperti, “Biarpun B hidupnya tidak jelas, selepas pensiun ia masih bisa berkarya, masih bisa jalan-jalan, masih terkenal. Sementara kemampuan A sebagai pekerja korporat akhirnya akan menemui garis mati. Menjadi obsolete karena tidak lagi mengikuti perkembangan jaman. Kaum-kaum A pun lalu memilih untuk pensiun dengan tenang. Tidak perlu lagi grasa-grusu seperti anak muda.”

PisangLilin lupa bahwa hidup seperti si B sangat tidak nyaman dan penuh gejolak. Saat B masih berputar-putar tidak jelas, kaum A sudah akan punya rumah, menikah, dan hidup tenang. Untuk beberapa orang, hidup reasonably well itu sudah cukup.

Untuk Capuccino, reasonably well tidak cukup. Karena ia punya cukup tenaga dan cukup nyali untuk menjalankan hidup ala Paul Arden, berangkatlah ia menuju dunia antah berantah. Mencicipi enaknya bangun siang dan makan kerupuk setiap hari. Mencicipi bangun tidur di hotel berbintang, lalu kembali menutup mata beralaskan tikar saja. Saat PisangKepok sudah punya rumah nanti, Capuccino mungkin masih numpang orang tua. Saat PisangRaja sudah menikah nanti, Capuccino masih akan pacaran di atas flyover Cijantung. *eh* Saat PisangMolen sudah mapan nanti, Capuccino mungkin baru akan mulai terkenal.

PisangGoreng tidak perlu mengenal Paul Arden, karena tidak semua orang perlu hidup di luar kotak. Hidup di dalam kotak itu hangat, nyaman, dan menenangkan. Capuccino berharap PisangGila itu akan menyimpan baik-baik impiannya dan hidup normal. Sementara itu, Capuccino tetap akan menggelinding di dunia yang luas (sambil kepanasan), terombang-ambing di lautan luas (sambil kedinginan), dan berlompatan di udara (sambil menjerit-jerit takut ketinggian).

Capuccino cocok dengan Paul Arden. PisangGoreng mungkin saja tidak.

Published in: on Agustus 11, 2010 at 3:51 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pencapaian (“Achievement”)

So, every one’ getting married, every one’s having kids, every one’s studying abroad.

Me, neah, just stick around, here with the same old fellas, the same job, the same routine activities. Perhaps, with little sparkles in a month, to buzz me up from my so-so life.

It’s not that I’m being ungrateful. I just feel that, I can achieve more than just ‘this’.

I can be more than just me.

Recently, I can’t get wedding stuff off my head. Then I’m thinking, I know that marriage is a good thing. But, when I’m bounded, there will be thousands of opportunities that I might be missed, if I got married.

When I’m talking about opportunities, that can be, studying abroad, see the whole world, see how ministries out there, see how terrible war is, see cultures of people on the other side of this earth.

That’s A LOT. And I want them ALL
For now I have no idea how to get there, I admitted that my focus is no longer about those goals.

I’m focusing on my heart, my partner, my money, my saving, my image.

Gosh..

LORD, these passion, I know they don’t just popped up in me.
Please show me a way, please strengthen me.

Kalau membaca tulisan dari rekan saya Cappucino, kata-kata ‘menumbuhkan uban dalam kedamaian’ itu sungguh menohok. Mungkin ‘kedamaian’ yang saya tangkap sedikit berbeda, saya mendefinisikan ‘kedamaian’ tadi dengan ‘PNS’, ‘8-5′, ‘ menikah punya anak dan mati’.

Tidak ada yang salah dengan hal-hal tadi, tapi di lubuk hati terdalam, PisangGoreng merasa, ada bentuk ‘kedamaian’ lain yang lebih sesuai dengan definisi pribadi.

Semisal, pencapaian mimpi-mimpi.
Lalu, apakah mimpi-mimpi PisangGoreng? Beberapa di antaranya mungkin terdengar konyol dan tidak penting, tapi itulah yang menjadi mimpi-mimpi saya.

Pencapaian.

Apa yang sudah kucapai?
Apakah sukses terbesarku?
Apakah kekecewaan terbesarku?

Ataukah hidup sudah menjadi garis lurus, bagaikan indikator matinya denyut jantung?

Published in: on Agustus 9, 2010 at 6:37 PM  Tinggalkan sebuah Komentar  

Capuccino dan PisangGoreng

Capuccino kangen PisangKeju, lalu teringat blog ini. Waktu blog ini pertama kali dibuat, Capuccino masih mahasiswa, dan masih imut, tentunya. PisangCoklat juga masih mahasiswa, masih bermukim di Bandung dengan tentramnya. Sekarang, PisangSusu sudah pindah kembali ke ibukota yang biadab, mengabdikan diri sebagai PisangKorporat, dan sudah punya ‘partner’. Eaaa… Capuccino sendiri sudah memuaskan keinginannya untuk mencoba macam-macam hal yang tidak penting, dan kata orang tidak berguna.

Sama dengan PisangGoreng, Capuccino sendiri kadang merasa tersesat di belantara cucian piring. Kalau waktu muda dulu kami punya hasrat yang menggebu-gebu untuk menjadi berbeda dari kerumunan pisang-pisangan dan cangkir-cangkiran yang lain, sekarang gelora itu mulai surut. Semua digantikan dengan pilihan untuk hidup nyaman dan menumbuhkan uban-uban dalam kedamaian.

PisangGoreng yang punya hidup lebih lurus sudah menemui jalan ini lebih dulu. Capuccino, masih senang berputar-putar. Di jalan banyak pemandangan menarik, begitu kira-kira sebabnya.

Banyak orang yang ingin hidup bebas seperti Capuccino. Tidak perlu dicuci dua kali sehari, bisa menggelinding kemana-mana, dan kalau sedang malas, bisa duduk-duduk saja di rak piring. Tapi, orang yang ingin menjadi seperti Capuccino kebanyakan menjalani hidup ala PisangGoreng. Teratur dan dapat dikendalikan. Capuccino sih tidak iri dengan PisangGoreng, karena hidup macam bagaimana pun juga, pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Keinginan Capuccino yang dicita-citakannya belum tercapai di 2010. PisangGoreng juga pasti masih menyimpan segudang harapan dan keinginan. Banyak hal yang bisa terjadi sebelum dua lima, dan banyak pula yang ternyata sanggup dilewati. Untuk 2015, Capuccino hanya ingin hal-hal yang sederhana saja. Ia ingin PisangGoreng hidup senang dan bahagia, jadi bisa lebih sering mentraktirnya. Capuccino juga ingin ambisi-ambisinya tercapai dan membuka banyak pintu untuk membahagiakan orang lain.

Memang, merencanakan yang bahagia-bahagia itu selalu membuat hidup terasa lebih cerah. Semoga, saat 2015 nanti, PisangGoreng sudah berubah menjadi renyah dan keemasan, sementara Capuccino menjadi cangkir yang mengilat dan berguna bagi nusa dan bangsa (begitu kira-kira petuah guru PKn).

Published in: on Juli 31, 2010 at 3:35 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.