Pisanggoreng & Bahasa Indonesia

Di senin pagi yang cerah,

kali ini Pisanggoreng tidak terlambat bangun, ajaib!
Kuliah Bahasa Indonesia pukul 7.00 telah menunggu. Dan ini kuliah pertama yang dihadiri Pisanggoreng. Kuliah minggu pertama, Pisanggoreng masih di Jakarta, minggu kedua sang dosen tidak hadir, minggu ketiga minggu malam ada final Piala Dunia dan sesuai dengan prinsip : Jangan sampai kuliah mengganggu Piala Dunia.
Alhasil minggu ketiga terlambat bangun. Genap sudah jatah bolos..

Di kuliah pertama itu, sudah terbayang kelas yang sangat membosankan, dosen yang tua renta, dan Pisanggoreng bersiap-siap untuk melanjutkan inkubasi di kelas.

Pisanggoreng salah besar.

Dosen muda yang tangkas dan sangat menguasai materi yang hadir di depan kelas. Beliau mengutarakan pentingnya bahasa Indonesia sebagai identitas. Seisi kelas mau tak mau merasa malu untuk keberaksaraan yang benar-benar minus. Juga diungkapkan betapa masyarakat Indonesia lebih cakap secara verbal. Ke-verbal-an ini menjadi olok-olok oleh masyarakat Jepang, sebagai berikut :

Orang Bandung itu aneh, di setiap angkutan umum telah tercantum jurusan yang dituju. Misalnya Abdul Muis-Dago, tapi masih ada saja yang teriak-teriak ‘Dago-Dago!’, dan pasti ada saja penumpang yang bertanya “Ke Dago ya A’?”

Lelucon itu membuat seisi kelas tertawa. Termasuk Pisanggoreng sendiri. Meskipun sebenarnya terasa miris, karena terasa sangat ironis. Layaknya menertawakan diri sendiri. Bangsa sendiri.

Beliau juga mengemukakan masalah kurikulum pendidikan Indonesia, dalam hal ini untuk bidang Bahasa Indonesia, yang dinilai minim. Jika dibandingkan di Australia, yang telah menerapkan pembelajaran langsung. Dimana siswa SD diajarkan untuk menulis, dan mengkaji tulisan mereka. Dan di tingkat SMP SMA diajarkan membaca satu tulisan atau buku dan mengkaji buku itu secara langsung.
Dan di sini masih terjebak dalam penulisan kata, dan hal-hal lainnya yang rasanya bukan lagi pembahasan bagi mahasiswa. Rasanya sudah saatnya mulai memperbaiki keberaksaraan masyarakat Indonesia.

Ironis memang. Tapi satu hal, beliau telah berhasil menginspirasikan Pisanggoreng untuk menerapkan hal itu bagi dirinya sendiri, bagi adiknya yang akan masuk perguruan tinggi dan SMU.

ps : Adik paling kecil Pisanggoreng diterima di SMU yang sama dimana Adik pertama Pisanggoreng dan Pisanggoreng juga menjalani masa SMU. Capuccino juga tentunya. The one and only, SMUN 39 Jakarta Timur!

Published in: on Juli 14, 2006 at 4:31 AM  Comments (4)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2006/07/14/pisanggoreng-bahasa-indonesia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Huek! Masuk 39? Malas deh awh.. :-”

    Euh, ade gw masuk IPS, Boss!😀 Buset dah, sekolah keluarga. Parah betuls..😛

  2. “Orang Bandung itu aneh”..? *gak terima*

    ingat kata pepatah bung, “malu bertanya, sesat di angkot”.😀 local wisdom warisan nenek moyang seperti itu tidak boleh dilupakan begitu saja.. :-“

  3. ah bung, rasanya pepatah itu telah dimodifikasi,
    jadi :
    ‘malu bertanya, ya jalan-jalan’ ^^

    namanya juga olok-olok.

    dan tentang mantel itu, denger ceritanya dari orang yang memang sudah berumur dan menjalani pahit manisnya di Bandung. dan untuk masalah jaket, sekali lagi mendapat persetujuan dari freerider Bandung.

    mungkin kalo ngga pake jaket, bukan orang Bandung tulen namanya. just perhaps,,
    -ngga berani bikin judgement, berhubung masih punya KTP Jakarta-

  4. Bakar aja KTP Jakarta-nya.. :-“


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: