Capuccino dan Germany 2006

Tak ayal, sadar atau tidak sadar, semua cangkir di dunia pasti merasakan efek dari Piala Dunia. Gelaran akbar empat tahun sekali itu tidak mungkin lewat tanpa jejak. Ada cangkir yang retak karena timnya kalah, “Piala Dunia sudah berakhir bagi saya ketika Inggris kalah.” Ada cangkir yang berulang kali harus bertandang ke dapur dan mengisi diri, “Ngopi biar gak ngantuk, Boss. Ntar malem ada pertandingan!” Ada juga cangkir yang berantem dengan teko-nya, demi menonton jagoannya berlaga, “Aduh, Mi, besok memang SPMB, tapi ini kan pertandingan penting gitu loh..” Ada juga cangkir-cangkir yang saling beradu karena salah satunya tak suka bola, “Papi mau kemana? Nonton bareng? Lagi? Mami ditinggal di rumah? Lagi? mau dilempar piring? Ha? Ha?

Contoh-contoh tersebut hanya benar sebagian. Tenang, tidak ada cangkir di sekitar Capuccino yang terluka selama penyelenggaraan Piala Dunia kali ini.

Yang jelas, sama seperti PisangRebus, Capuccino juga menjadi korban penyelenggaraan Piala Dunia. Dengan mengandalkan insomnia menahun yang dideritanya, Capuccino sanggup menonton lebih dari 90% tayangan Piala Dunia yang wara-wiri di TV. Tiga kali sehari. Dua kali sehari. Satu kali sehari. Acara minum obat saja kalah.

Padahal, Capuccino bukan penggemar sepakbola.

Suka sih, tapi bukan penggila bola. Capuccino sudah mendedikasikan dirinya untuk membela Fernando Alonso, dan bertekad untuk tidak menjadi maniak sepakbola. Karena itu, alangkah terkejutnya Capuccino, bahwa hajatan akbar FIFA ini mampu untuk menyeretnya dari sirkuit balap ke stadion.

Televisi merek Sony dengan ukuran 14″ kepunyaan Capuccino satu-satunya, menjadi saksi sejarah metamerfosis cangkir kopi yang malang ini. Capuccino yang tidak suka dan tidak tahu menahu tentang sepakbola, tiba-tiba mengabdikan dirinya sebagai reporter bola dadakan. Setiap hari membicarakan sepakbola. Selalu membeli tabloid yang membahas sepakbola. Bahkan hapal nama dan posisi seluruh pemain yang tergabung dalam skuad-skuad favorit juara, seperti Jerman, misalnya.

Kopi adalah racun. Begitu juga dengan sepakbola!

Capuccino menyadari bahwa, sama halnya dengan kopi, sepakbola juga memiliki rasa manis dan pahitnya sendiri. Membela Albiceleste sejak sebelum kick-off Germany 2006, Capuccino harus menenggak pahitnya kekalahan saat tim kesayangannya digulung oleh Jerman di babak penalty shoot-out. Tetapi, manisnya kemenangan juga sempat dirasakan oleh cangkir kopi ini. Saat Fabio Cannavaro mengangkat trofi Piala Dunia, cangkir Capuccino ini diisi dengan es loli. Sweet!πŸ˜€

Capuccino mencatat beberapa momen manis lainnya terkait dengan Germany 2006. Yang pertama adalah nonton bareng yang tidak terlupakan di Citos. Capuccino yang sebenarnya sedang sakit agak parah, menyeret diri untuk mendukung tim jagoannya. Berbaju biru dengan arm-band hijau-putih-merah, Capuccino sukses bernorak-norak ria di atas kursi JCo. Kapan lagi Capuccino diperkenankan untuk menyanyikan Inno di Mameli dengan suara sembernya di tengah kerumunan tifosi Italia?πŸ˜€ Nice! Best assist harus diberikan pada partai Jerman-Italia untuk Andrea Pirlo. Best goal adalah gol voli Maxi Rodriguez, disumbangkan untuk Albiceleste di partai Argentina kontra Meksiko. Best defender jelas Fabio Cannavaro. Tidak hanya tembok, Canna juga adalah jiwa squadra Azzura. Best goalkeeper adalah pemenang Lev Yashin Award, Gianluigi Buffon. Best midfielder, Andrea Pirlo saja dehπŸ˜‰ Best striker? Kalau saya beri pada Miro, adakah cangkir diluar sana yang protes?πŸ˜€ Best coach? Lippi is our king!πŸ˜€

Euh, kok isinya dari Italia semua ya? :-”

Germany 2006 memang sangat unforgetable, memorable, dan ‘able-able’ yang lain! *toss sama PisangMolen*

South Africa 2010 yang akan datang, Capuccino kemungkinan sudah lulus S2 dan punya pekerjaan tetap. Istri? Ah, diganti MacBook seksi kelahiran Cupertino saja lah.. :-” Seandainya ada kesempatan menonton, Capuccino akan mengajak PisangAmbon untuk nonton bareng. Semoga pepatah, “Norak itu tidak mengenal usia,” benar adanya. Kapan lagi kita bisa norak? 2010 atau tidak sama sekali!πŸ˜€

Published in: on Juli 15, 2006 at 12:54 PM  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2006/07/15/capuccino-dan-germany-2006/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: