Capuccino dan Paul Arden

Capuccino sedang bersih-bersih perpustakaan, eh, gudang buku, dan teringatlah ia pada Paul Arden. Saat pertama membeli bukunya beberapa tahun yang lalu, Capuccino langsung jatuh cinta pada “Whatever You Think, Think The Opposite”. Malam ini, Capuccino patah hati. Buku itu ternyata sudah hilang dari daftar koleksi.

Capuccino sedang menikmati statusnya sebagai pengangguran. Di saat yang sama, PisangKremes sedang menyusuri jalan setapak menuju pengabdian pada negara, alias jadi PNS. Capuccino langsung teringat pada salah satu anekdot yang dibacanya, kemungkinan besar dari bukunya Arden juga.

A dan B memulai hidup dengan pilihan jalan yang berbeda. A melesat cepat di jalur penempatan karyawan yang normal. Di umur sekian-sekian, A sudah menanjak menuju kemapanan, aman, dan dalam grafik yang merangkak stabil. B memulai dengan segala kemalasan dan keleletannya, tertinggal jauh dari A. B hidup terkatung-katung, kadang naik dan kadang turun. Grafik roller-coaster ini membawa B pada beberapa pencapaian puncak. Mungkin salah satunya adalah penemuan sendal anti maling. Cocok dibawa untuk shalat Jum’at ke masjid terdekat. B menjadi terkenal atas penemuan-penemuannya. Tapi, itu tidak lantas membuat grafik hidupnya menjadi stabil. Kadang ia kaya dan terkenal, kadang kere. Sementara itu, di saat yang sama, A sudah mampu membayar lunas cicilan rumah, apartemen, sepuluh mobil, dan punya selusin anak. A juga sudah jadi manajer. Punya kursi empuk dan banyak kacung.

A dan B sama-sama sukses. Successful A is doing reasonably well. Successful B is doing well too, with a spark of fame.

Most people are reasonable; that’s why they only do reasonably well.

PisangKepok merasa ‘terjebak’ dalam lingkaran kehidupan lulus-kerja-kawin-punya anak-tua-mati. Ia merana karena hidupnya akan berakhir seperti si A. Ia merana karena ia tahu, anekdot-anekdot seperti ini diakhiri dengan penutup klise seperti, “Biarpun B hidupnya tidak jelas, selepas pensiun ia masih bisa berkarya, masih bisa jalan-jalan, masih terkenal. Sementara kemampuan A sebagai pekerja korporat akhirnya akan menemui garis mati. Menjadi obsolete karena tidak lagi mengikuti perkembangan jaman. Kaum-kaum A pun lalu memilih untuk pensiun dengan tenang. Tidak perlu lagi grasa-grusu seperti anak muda.”

PisangLilin lupa bahwa hidup seperti si B sangat tidak nyaman dan penuh gejolak. Saat B masih berputar-putar tidak jelas, kaum A sudah akan punya rumah, menikah, dan hidup tenang. Untuk beberapa orang, hidup reasonably well itu sudah cukup.

Untuk Capuccino, reasonably well tidak cukup. Karena ia punya cukup tenaga dan cukup nyali untuk menjalankan hidup ala Paul Arden, berangkatlah ia menuju dunia antah berantah. Mencicipi enaknya bangun siang dan makan kerupuk setiap hari. Mencicipi bangun tidur di hotel berbintang, lalu kembali menutup mata beralaskan tikar saja. Saat PisangKepok sudah punya rumah nanti, Capuccino mungkin masih numpang orang tua. Saat PisangRaja sudah menikah nanti, Capuccino masih akan pacaran di atas flyover Cijantung. *eh* Saat PisangMolen sudah mapan nanti, Capuccino mungkin baru akan mulai terkenal.

PisangGoreng tidak perlu mengenal Paul Arden, karena tidak semua orang perlu hidup di luar kotak. Hidup di dalam kotak itu hangat, nyaman, dan menenangkan. Capuccino berharap PisangGila itu akan menyimpan baik-baik impiannya dan hidup normal. Sementara itu, Capuccino tetap akan menggelinding di dunia yang luas (sambil kepanasan), terombang-ambing di lautan luas (sambil kedinginan), dan berlompatan di udara (sambil menjerit-jerit takut ketinggian).

Capuccino cocok dengan Paul Arden. PisangGoreng mungkin saja tidak.

Published in: on Agustus 11, 2010 at 3:51 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2010/08/11/capuccino-dan-paul-arden/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: