Capuccino dan Secangkir Sepi

Pesan singkat menyapa Capuccino. Sahabatnya berkeluh-kesah. Katanya ia merasa ditinggalkan. Sepi sendiri. Dimanakah teman-temannya berada saat ia merasa galau seperti ini?

Sindrom seperempat baya menyapa. Katanya hal ini sedang banyak menggejala.

Setelah melepas status mahasiswa dengan penuh euforia, anak-anak muda itu menyambut dunia barunya dengan gempita. Dunia baru ini berisik, berputar cepat, dan akan melindas semua yang temponya tertinggal. Mereka mendadak lupa semuanya. Lupa siapa dan dimana dirinya berada, yang ada hanyalah pemahaman bahwa bergerak merupakan sebuah keharusan. Kemana? Ya, ikut orang-orang yang sudah duluan berjalan di depan dong.

Semuanya berlomba mengerjakan pekerjaan yang mereka sebenarnya tidak terlalu suka. Setelah mendapat uang, lalu membelanjakannya, membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkannya. Semuanya dilakukan untuk mendukung gaya hidup yang sebenarnya tidak terlalu dinikmatinya.

Beberapa tahun setelah pengejaran tanpa henti itu dimulai, mereka mulai lelah, berhenti sejenak, lalu bertanya: dimanakah teman-teman saya?

Ia akan melihat bahwa teman-temannya berada di luar sana, jauh sekali, dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia mencoba menyapa, tetapi mereka hanya membalas setengah hati. Ikatan yang terjalin rapat saat sekolah dan kuliah dulu terasa seperti mimpi. Tiba-tiba ia merasa jauh tersesat.

Untungnya, sahabat Capuccino tidak curhat sampai tahapan menggerutu. Bila nekat menembakkan kata-kata pahit dan cela, kepada siapapun Capuccino akan berkata: ingatkah kau pada saat kami berlari memanggil? Dimanakah kalian kemarin? Seminggu yang lalu? Setahun yang lalu? Dimanakah kalian saat kami merasa sendiri?

Capuccino sih jarang merasa kesepian, dan biasanya tidak pecicilan curhat kemana-mana kalau sedang bad mood. Tapi, bukan berarti ia tidak memahami derita teman-temannya di luar sana.

Kita adalah jalinan tangan-tangan yang saling menggenggam dalam gelap. Kita tidak pernah menyadari betapa dekatnya jarak satu sama lain. Kita juga tidak pernah menyadari bahwa kita bukanlah satu-satunya yang merasa sendiri. Capuccino mungkin sudah merasa kesepian minggu lalu. PisangGoreng mungkin sudah kesepian bulan lalu. Kita semua semua mendapat giliran masing-masing. Tetapi, hanya pada saat kita galau itulah, kita akan membuka mata dan menoleh ke sekitar. Hanya untuk menemukan kegelapan yang mengungkung. Tanpa tahu tangan yang kita genggam sedang menangis. Tanpa tahu ada berjuta pasang mata yang saling mencari dalam gelap. Merasa sepi sendiri.

Published in: on Agustus 12, 2010 at 3:05 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2010/08/12/capuccino-dan-secangkir-sepi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: