Pisanggoreng & Gideon Haro

Tergolong unik perjumpaan dengan pribadi yang satu ini.
Kali pertama berjumpa, di warnet bersejarah di Bandung, kala Pisanggoreng bekerja part time demi sesuap nasi padang dan bergiga-giga bandwidth *grin*

Ketika itu, si Gideon Haro ini menjadi pelanggan, yang tergolong loyal dan sering berkunjung. Dengan gaya khas ITB-nya (baca : gondrong, kaca mata, backpack lusuh, muka perhitungan) jadi daya tarik sendiri yang membuat Pisanggoreng mencapai tingkat kepo level 11! (dari skala 1-10)

Usut punya usut, dia ternyata beribadah di gereja yang sama, dan aktif pada bagian Multimedia.

Pisanggoreng sendiri sejak awal memang sudah berminat untuk join Multimedia di tempat tersebut *ngeles a la bajaj*

Jadilah perkenalan dan pertemanan setelah berjumpa di komunitas yang sama.

Dengan kondisi yang sama-sama mahasiswa tingkat akhir, maka koneksi mau tidak mau terbina. Meski tidak bisa dibilang sangat intens.

Dari sekian perjumpaaan, satu kali perjumpaan yang cukup berkesan. Dimana pribadi ajaib ini menceritakan kisah hidupnya sepanjang siang sampai sore. Sampai hal terdetail sekalipun.

Takjub, itu reaksi pertama Pisanggoreng.
“Oh ada ya orang kayak gini”, itu reaksi kedua. In good way, of course.

Dari sesi panjang itu, Pisangggoreng menyimpulkan pribadi ini sudah mempunyai visi dan misi hidup bahkan sejak seragamnya masih abu-abu.

Mungkin ketika remaja-remaja lainnya sibuk sembunyi-sembunyi mencari kesempatan mengintip majalah dewasa, atau heboh sendiri menodong orang tua mereka dengan mainan-mainan paling hip.

Ini mahluk sudah memikirkan ekspektasi dan visi misi hidupnya belasan tahun ke depan.

Apa tujuan yang ingin dicapai.
Bagaimana cara mencapainya dengan kapasitas yang dia punya.
Dalam jangka berapa lama ekspektasinya dapat dia capai.
Apa saja yang dia butuhkan untuk mencapainya.
Pengorbanan apa saja yang harus dia lakukan.

Man!

Seberapa sering Anda bertemu dengan orang seperti itu? Name one, I dare you.

Kemudian dari situ, seperti wanita normal lainnya, simpati Pisanggoreng mulai tumbuh.
Tetapi dengan berbekal kesadaran diri yang tinggi, Pisanggoreng membatasi simpati itu.
Menyadari visi misi yang berbeda. Dan tentu saja blink-blink emosi tidak penting hanya akan merusak pertemanan yang ada.

Itu juga yang menjadi salah satu nilai lebih mahluk satu ini, dia sadar betul akan ke-charming-annya.
*Yes, it’s obvious, dude.*

Though, dia tetap bisa membatasi diri dan tidak menebar benih kemana-mana.
Begitu ada sinyal-sinyal bahaya, dia bisa menjaga jarak dan memastikan bahwa plang “I’m not interested” sudah terlihat.
Bukannya memberdayakan ke-charming-annya itu.

Good boy.

Salah satu yang juga membuat makin kagum adalah, si mahluk ini tipe yang (sepengetahuan Pisanggoreng) tergolong setia. Dari cerita yang tersampaikan hingga hari ini, baru satu wanita yang berhasil membuat dia berkomitmen. Meskipun akhirnya justru wanita itu yang memupuskan komitmen mereka. *silly woman*

Lalu apalagi uniknya dia?

Tentang visi misi hidupnya. Dia memutuskan mengambil perkuliahan perminyakan sejak SMA dan di ITB
Kenapa? Simple jawabannya kala itu, “Ingin hidup mapan, tanpa harus menjadi dokter/pengacara, seperti yang diketahui orang pada umumnya”

He made it.

Ketika lulus, dia diterima di perusahaan minyak lokal yang cukup ternama.
Tak bertahan lama, dia memutuskan keluar. Alasannya? Job desc yang diarahkan kepadanya tidak sesuai dengan visi misinya.

Gosh!

Oia, sedari tadi menyebutkan visi misi, belum disebutkan apa itu visi misinya.
Menjadi Reservoir Engineer.

Pisanggoreng sendiri hanya orang awam yang hanya bisa melongo mendengar istilah itu.

Secara garis besar, untuk memperoleh titel itu, tahapan yang dia sudah lalui hingga saat ini :
– Lulus kuliah “berdarah-darah” di ITB
– 4 tahun bekerja freelance, sebagai syarat pengalaman sebelum memasuki level berikutnya
– Memasuki tahun kelima, masih dengan titel freelance, tapi sudah punya beberapa anak buah dan menjalani beberapa project (yang lagi-lagi adalah syarat/requirement untuk mencapai level “Reservoir Engineer”)

Hanya tiga poin memang secara tulisan.
Tapi keseharian yang dilaluinya mungkin tidak semua orang bisa menjalaninya.
Jam kerja yang serabutan sebagai freelance. Kehidupan sosial yang terdegradasi (actually sebelumnya pun kehidupan sosialnya tidak begitu signifikan, dan makin menjadi tidak signifikan)

Setiap kali Pisanggoreng bertanya, “Memangnya gak capek?”, “Memangnya gak bosen?”

Dia beberapa tahun pertama dengan mantap dia bisa menjawab “Gak”
Tapi ada kalanya juga jawabnya sedikit melenceng menjadi “Ini tahapan yang harus dilalui, dan sudah firm untuk menjalani ini”

Which means, he might getting tired, but he’s not giving up.

Dude!
Name one if you know such persistent person. Such persevere person.

Lalu kenapa Pisanggoreng baru menulis tentang dia hari ini?

Bapak ini akan berangkat ke Norwegia pada 1 Agustus 2012.
Setelah perjuangan panjang, impiannya untuk melanjutkan sekolah di Norwegia akhirnya tercapai
FYI, impian yang ini juga sudah dia sebutkan sejak kuliah.

Dan beberapa waktu lalu, Pisanggoreng berkesempatan merayakan kelulusannya ini di kota Paris van Java

Pisanggoreng bukan hanya melihat pribadi yang persistent, pribadi yang kuat.
Tapi, di sisi lain, pribadi yang satu ini jadi reminder bahwa pribadi yang bervisi misi dan menghidupinya adalah kesaksian yang lebih kuat dan riil dibandingkan ungkapan-ungkapan dan kata-kata rohani.

Dia mungkin tidak berulang-ulang menyebut Tuhannya.
Tapi melalui tahapan hidupnya, menjadi kesaksian nyata bagaimana dia mengandalkan Tuhannya melewati tahapan kehidupannya.

Well, setidaknya itu yang Pisanggoreng lihat. Kalaupun memang ternyata dia pribadi yang arogan dan mengandalkan dirinya sendiri hingga berhasil mencapai impiannya, at least dia sudah berhasil menjadi berkat bagi temannya.

So, bapak ini akan berangkat, dan mulai menghidupi impiannya untuk memasuki level berikutnya dalam visi misi hidupnya.

Congrats!

Dan sekarang Pisanggoreng sedang berpikir, how about me?

Published in: on Juni 4, 2012 at 8:02 AM  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2012/06/04/pisanggoreng-dan-gideon-haro/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. kayaknya kenal deh dengan si pisang goreng ini, ^_^
    salam untuk mas haro nya yak …

    • Wah, uda jarang komunikasi jugaa,,cuma email doang,,bapaknya uda ke Norway mba’e.. hehe

  2. Wah, uda jarang komunikasi jugaa,,cuma email doang,,bapaknya uda ke Norway mba’e.. hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: