Pisang Goreng dan Pilihan Hidup

Jadi, beberapa waktu lalu Pisang Goreng bertemu dengan koleganya yang konon sudah deklarasi akan mengubah kewarga negaraannya & tidak akan kembali ke Indonesia.

Pertemuan singkat dalam bentuk innocent lunch menjadi pemicu berputarnya ide-ide dan pemikiran-pemikiran di kepala Pisang Goreng.

Si kolega mendeklarasikan bahwa sekian tahun tinggal di Eropa membuatnya menemukan jalan hidup yang sesuai dengan yang diharapkannya. Beberapa pilihan hidup yang diambilnya :

  • Percaya Tuhan, tapi tidak memilih agama tertentu
  • Memilih untuk tinggal bersama sebelum menempuh pernikahan
  • Memilih berstatus single
  • Memilih menunda keturunan sampai merasa siap secara mental & finansial

 Bagi beberapa orang pilihan-pilihan itu mungkin radikal, outlier atau apapun itu istilahnya. Tapi Pisang Goreng menemukan bahwa ide-ide itu sejalan dengan pemikirannya. Well, mungkin kecuali untuk “Tinggal bersama” karena belum betul-betul siap jika pada akhirnya harus berpisah setelah melewati fase “Tinggal bersama” .

Point “Percaya Tuhan, tapi tidak memilih agama tertentu”, bagi Pisang Goreng lebih kea rah bahwa seharusnya frase “Percaya Tuhan” lebih menjadi prioritas ketimbang ritual-ritual dan tradisi-tradisi.

Meskipun tidak bisa menjadi judgment bagi seluruh lingkungan beragama, tapi lingkungan Pisang Goreng yang sangat kental dengan konsep tradisi dan ritual membuat Pisang Goreng gerah.

Apalagi dalam implementasinya, tradisi dan ritual tersebut tidak lebih dari sekadar mengumpulkan orang-orang di satu tempat, orang-orang datang dengan segala atribut yang akan “ditunjukkan”. Orang-orang berbincang satu sama lain (most likely membicarakan betapa mengerikannya hidup orang lain) selama prosesi ritual & tradisi sambil menunggu giliran untuk tampil.

I thought, what is the point of this whole thing?

Menurut Pisang Goreng, ritual & tradisi pada awalnya mungkin dirancang untuk menjadi momen dimana orang-orang terdekat berkumpul dan sarana untuk menyatukan hati.

Tapi seiring bergesernya waktu, bergeser pula nilai-nilai itu.
Yang tersisa adalah pertunjukan logam mulia yang paling bagus, gadget paling terkini, kendaraan paling mewah, keluarga yang paling sempurna, liburan keluar negeri yang paling banyak mengeluarkan uang.

Next point, “Memilih menunda keturunan sampai merasa siap secara mental & finansial”. Konsep ini adalah konsep ideal & fair bagi semua pihak, baik bagi orang tua maupun anak/keturunannya.

Sebagai orang yang sudah memiliki keturunan dalam kondisi mental & finansial yang, well mungkin baru sekitar 85% siap, konsep ideal ini sangat dijunjung tingga oleh Pisang Goreng.

Mungkin beberapa orang akan mengecam, dan mengelak dengan “Kita gak akan pernah benar-benar siap”, “Rejeki diatur Tuhan”.

But God also blessed us with brain and wisdom.

Artinya, kita punya pilihan untuk merancang akan seperti apa kondisi kita ketika kita memilih untuk memiliki keturunan, beberapa jenis pilihan.

  • “Yah meskipun pas-pasan, nanti Tuhan akan sediakan rejeki”
  • “Kayaknya sih gw belom siap, tapi orang-orang uda pada nanyain mulu kapan punya anak”
  • “OK, gw mau ketika gw punya anak, gw uda punya rumah sendiri. Jadi istri gw bisa nyaman merawat anak gw, bisa ditemenin nyokapnya dan anak gw juga nyaman beristirahat. Gw juga uda mesti siapin tabungan untuk biaya sekolahnya”

Untuk yang pilihan kedua, Pisang Goreng sungguh amat sangat muak dengan orang-orang yang out of nowhere, you barely know, you barely meet on regular basis, tapi seenak dengkul basa-basi :

“Kapan punya anak, gak bosen berdua terus?”

Dude, even if the couple have kids, you won’t be the one who taking care the responsibilities, not the one who prepare for education cost.

You only will be the one who burst out unnecessary comment upon the kid’s uncommon hobby, or comment on how the kid’s is not as good as other kid.

So please, I’m begging you, just shut your unnecessary question for yourself.

Komentar ini sungguh-sungguh dari hati Pisang Goreng yang sudah jadi Ibu, dimana penilaian dari orang-orang tentang “Tingkat kemampuan jadi Ibu” sudah jadi makanan sehari-hari.

Bahkan mereka tidak menjadi bagian dari keseharian dari Pisang Goreng, tidak juga memberi nafkah bagi Pisang Goreng & keluarganya. Tapi entah bagaimana mereka merasa punya hak untuk menghakimi dan memberi ponten terhadap kredibilitas Pisang Goreng sebagai ibu.

Back to those three options, menurut Pisang Goreng memiliki keturunan adalah tanggung jawab yang sangat-amat-sungguh besar.

Memiliki keturunan artinya : Tidak ke bioskop at least selama 1 tahun; tidak ada waktu untuk diri sendiri; less sleep; lots of diapers; lots of tears; menyusun rencana finansial untuk masa depan keturunan dan banyak lagi.

Jadi Pisang Goreng sangat pro terhadap konsep bahwa perencanaan sebelum memiliki keturunan. Meskipun tidak menjadi jaminan 100% bahwa semua akan sempuran & ideal, tapi setidaknya akan less chaos dibanding jika tidak ada perencanaan & persiapan.

Anyway, pilihan hidup Pisang Goreng sekarang tidak banyak. Still, I’m trying to get the best out of it.

Published in: on Juli 8, 2015 at 11:10 AM  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://pisanggorengdancapuccino.wordpress.com/2015/07/08/pisang-goreng-dan-pilihan-hidup/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: